Menlu: ACT Selalu Hadir dalam Merespons Bencana & Krisis Kemanusiaan

Menlu: ACT Selalu Hadir dalam Merespons Bencana & Krisis Kemanusiaan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyambut baik upaya yang dilakukan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam memberikan bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik. Menurut Retno, bantuan tersebut bisa menjadi diplomasi kemanusiaan yang menjadi diplomasi inti dalam konteks politik luar negeri Indonesia, selain diplomasi perdamaian.

Dua diplomasi inti ini menjadi keunggulan Indonesia di antara bangsa lainnya. Jika dalam diplomasi perdamaian Indonesia berusaha menjembatani negara-negara berkonflik, diplomasi kemanusiaan berusaha membantu para korban krisis kemanusiaan.”Dan kami melihat ACT selalu hadir dalam merespons bencana dan krisis kemanusiaan, seperti ‘di mana ada musibah, di situ ada ACT’. Jadi, tentunya kami ingin untuk mempertebal sinergi ini. Kami mengapresiasi sekali langkah-langkah dan bantuan-bantuan yang sudah disampaikan oleh ACT ke dalam negeri serta berbagai penjuru dunia. Harapannya ke depan kita akan lebih memperkuat sinergi antara pemerintah dengan kegiatan-kegiatan ACT. Sehingga sekali lagi kepedulian Indonesia terhadap masalah-masalah kemanusiaan akan lebih besar lagi dan bermanfaat bagi yang membutuhkan,” ungkap Retno dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/4/2018).

Retno menekankan diplomasi kemanusiaan Indonesia tidak terbatas pada peran pemerintah. Diplomasi kemanusiaan melibatkan peran seluruh elemen bangsa.

“Makanya kata diplomasi tidak berarti yang menjalankannya hanya orang yang berprofesi sebagai diplomat, tapi juga seluruh anak bangsa. Sehingga, diplomasi kemanusiaan itu dapat terwujud dengan baik apabila kita semua bersinergi bersama,” jelas Retno yang telah bertemu pimpinan ACT didampingi Direktur Timur Tengah Sunarko, dan Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Salman Al Farisi beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Presiden ACT Ahyudin mengatakan ACT berusaha terus mendampingi korban bencana kemanusiaan dan alam.

“Kecepatan dan pemberdayaan masyarakat lokal juga sudah menjadi karakter ACT dalam setiap misi kemanusiaan yang dilakukan. Program Kapal Kemanusiaan misalnya, Alhamdulillah ribuan ton beras dari petani Indonesia dapat terkumpul dalam waktu singkat ketika panen raya. Kami membeli beras mereka, mengajak mereka untuk turut serta menyiapkan berasnya. Lalu beras-beras tersebut juga dilayarkan oleh perusahaan kapal logistik milik anak negeri menuju Somalia, Bangladesh, Palestina, dan Insyaallah Suriah. Semua dilakukan dalam durasi yang cepat agar bantuan lekas diterima korban krisis kemanusiaan,” ungkap Ahyudin.

Ketika bantuan-bantuan tersebut tiba di negara yang mengalami krisis kemanusiaan, lanjut Ahyudin, nama dan bendera Indonesia menyertai itu semua.
Misalnya saja saat beras Indonesia masuk ke Gaza, bendera Indonesia mendominasi iring-iringan kontainer yang membawa beras dari bangsa Indonesia.
Begitu pula dengan program Indonesia Humanitarian Center yang berpusat di Reyhanli, Turki.

“Program tersebut tidak semata-mata dijalankan oleh ACT, namun juga seluruh elemen bangsa yang telah berpartisipasi dalam penyediaan pangan untuk pengungsi Suriah. Inilah kepedulian bangsa Indonesia,” imbuh Ahyudin.

Bantuan-bantuan yang disampaikan secara berkesinambungan merupakan bentuk solusi jangka panjang bagi para korban krisis kemanusiaan. Hal ini tentunya bisa terlaksana dengan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *